Direktori Indonesia - Indonesian free listing directory, SEO friendly free link directory, a comprehensive directory of Indonesian website. PEMBANGUNAN PERTANIAN: Hari Gizi Dan Rediversifikasi Pangan
Selamat Datang Di Blog Pembangunan Pertanian

Selasa, 15 Februari 2011

Hari Gizi Dan Rediversifikasi Pangan

Pemerintah menetapkan tanggal 25 Januari sebagai hari Gizi Nasional. Penetapan ini dimaksudkan untuk menggugah masyarakat akan pentingnya gizi dalam membentuk kualitas sumberdaya manusia Indonesia. Dalam globalisasi persaingan bukan lagi didasarkan atas persaingan sumberdaya alam, tetapi sudah persaingan sumberdaya manusia. Sebab sumberdaya manusia yang berkualitas yang mempunyai kemampuan mengolah sumberdaya alam.

Salah satu persyaratan terbentuknya sumberdaya manusia berkualitas adalah : mengkonsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman. Karena tanpa pangan yang berkualitas, maka SDM kita juga tidak akan berkualitas.
Maka untuk mendukung terbentuknya SDM berkualitas diperlukan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan. Kebutulan ketika memperingati Hari Gizi ini, Indonesia mengalami persoalan masalah mahalnya harga pangan terutama beras.
Dua momen ini, Hari Gizi dan mahalnya harga beras, sebenarnya merupakan peluang untuk mempercepat diversifikasi pangan. Karena selama ini keluhan tidak berhasinya penganekaragaman pangan ini akibat kebijakan pangan selama ini yang menekankan kepada beras, sehingga menghancurkan tradisi makanan pokok yang beragam jenisnya. Oleh karena itu istilah diversifikasi pangan yang selama ini terkesan "alergi" perlu dipertimbangkan untuk mengintroduksi istilah rediversifikasi, artinya untuk tahap pertama adalah bagaimana mengembalikan masyarakat kepada makanan yang sejak zaman dahulu oleh nenek moyangnya sudah dilakukan. Kembalikan kepada makanan pokok lokal.

Selama ini tanpa disadari sebenarnya pemerintah telah mengobrak-abrik ekosistem pangan asli menjadi padi. Sehingga mengasingkan masyarakat dari makanan pokok tradisional seperti sagu, sukun, talas, ubijalar, singkong, jagung dan beralih pada beras.
Ancaman krisis pangan dinilai hanya bertumpu pada angka produktivitas padi yang menurun, lalu diseslesaikan dengan impor. Komoditi non beras tidak dinilai sebagai komoditas cadangan pangan. Bahkan kalau ada masyarakat yang betahan dengan makanan pokok jagung, pemerintah mengkatagoikan sebagai masyarakat miskin.
Oleh karena itu marilah melakukan rediversifikasi pangan dengan mengembalikan pengembangan substitusi terigu dengan tepung dari sumber karbohidrat lokal, mengembangkan pangan pokok lokal dan budidaya komoditas bukan tunggal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar