Rabu, 15 Agustus 2012
MENINGKATKAN PRODUKSI PADI MELALUI SRI
Revitalisasi pertanian yang dicanangkan Presiden RI pada tanggal 11 Juni 2005 antara lain bertujuan untuk meningkatkan produksi padi menuju swasembada beras dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional. Berbagai upaya peningkatan produksi padi terus dilakukan melalui program kebijakan program pemerintah yang tentunya harus didukung oleh teknologi inovasi yang dapat mendongkrak produksi padi. Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar rakyatnya hidup dari pertanian. Pada awalnya kondisi alam, cuaca dan budaya masyarakat di Indonesia sangat mendukung sektor pertanian ini dimana tanah Indonesia merupakan tanah yang sangat subur dan produktif sehingga pertanian memang cocok untuk terus dikembangkan di Indonesia. Namun dalam perkembangannya secara umum semakin lama kondisi tanah pertanian di Indonesia semakin rendah tingkat kesuburannya yang berdampak kepada semakin menurunnya tingkat produksi pertanian.
Untuk meningkatkan hasil produksi (khususnya padi) biasanya petani mengupayakannya dengan meningkatkan biaya produksi diantaranya berupa peningkatan penggunaan kuantitas dan kualitas benih, pupuk dan pestisida. Pada awalnya penambahan biaya produksi ini bisa memberikan peningkatan kepada hasil pertanian, namun untuk selanjutnya tingkat produksi kembali menurun. Salah satu harapan sebagai solusi terbaik bagi pertanian di Indonesia dalam peningkatan hasil produksi yaitu melalui pola pertanian dengan metoda System of Rice Intensification (SRI). SRI merupakan salah satu pendekatan dalam praktek budidaya padi yang menekankan pada manajemen pengelolaan tanah, tanaman dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan. Dengan pola tanam padi metode SRI diharapkan dapat memberikan tambahan produksi sebanyak 1,5 ton/Ha , sehingga dapat berkontribusi dalam mensukseskan program surplus beras 10 juta ton pada tahun 2014. Salah satu teknologi inovasi pengelolan padi yang saat ini terus berkembang yaitu melalui pendekatan System of Rice Intensification (SRI). Di Jawa Barat Budidaya padi dengan sistem SRI telah berkembang di beberapa daerah misalnya di Kabupaten Ciamis, Garut, Kuningan dengan hasil lebih tinggi dibanding dengan cara kebiasaan petani. Di Indonesia pengertian SRI adalah usahatani padi sawah irigasi secara intensif dan efisien dalam pengelolaan tanah, tanaman serta air. Melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal serta berbasis pada kaidah ramah lingkungan (Departemen Pertanian, 2005). Teknologi SRI di Indonesia lebih menitikberatkan pada penggunaan pupuk organik, begitu juga dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) khususnya hama dan penyakit hanya mengandalkan pestisida nabati, sehingga dapat menghasilkan padi organik. Pada prinsipnya komponen teknologi yang diterapkan pada system SRI tidak jauh berbeda dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badanlitbang Pertanian). PTT menekankan pada pendekatan sumberdaya alam untuk meningkatkan produktivitas padi, dengan prinsip menggabungkan kaidah efisiensi, sinergis, dan dinamis secara partisipatif (Badanlitbang Pertanian, 2007).
KEUNGGULAN METODE SRI
Ø Hemat air; selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen air diberikan macak-macak atau maksimal digenangi setinggi 2 cm. Pada waktu pengeringan tanah dibiarkan sampai retak
Ø Hemat biaya; benih hanya 5 kg/ha, efisiensi upah tanam pembibitan
Ø Hemat waktu; umur bibit muda, waktu panen akan lebih awal
Ø Produksi meningkat; hasil dibeberapa lokasi mencapai 11 ton/ha
Ø Ramah lingkungan; tidak menggunakan bahan-bahan (pupuk, pestisida) an-organik
PRINSIP BUDIDAYA METODE SRI
Ø Bibit harus muda; kurang dari 12 hari setelah semai
Ø Bibit ditanam 1 tanaman / lubang; jarak tanam 30 x 30 cm, 35 x 35 cm atau lebih
Ø Pindah tanam harus sesegera mungkin; harus hati-hati agar akar tidak terputus dan ditanam dangkal
Ø Pemberian air maksimal 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai pecah (irigasi berselang/terputus)
Ø Penyiangan dilakukan sejak awal sekitar 10 hst, dilakukan 2-3 kali dengan interval 10 hari
Ø Menggunakan pupuk organik TEKNIK BUDIDAYA PADI METODE SRI
Ø Persiapan Benih Sebelum benih direndam daam air biasa, benih direndam dalam air garam. Benih yang baik untuk ditanam adalah benih yang tenggelam dalam larutan garam tersebut. Kemudian benih yang terpilih (tenggelam) direndam selama 24 jam kemudian ditiriskan dan diperam 2 hari. Selanjutnya disemaikan dalam media tanah dan pupuk organik dengan perbandingan 1:1 di dalam wadah segi empat (besek/pipiti) ukuran 20 x 20 cm, setelah 7-10 hari benih sudah siap tanam
Ø Pengolahan Tanah Pengolahan tanah untuk SRI tiadak berbeda dengan cara pengolahan yang dilakukan oleh petani. Pengolahan tanah secara sempurna dengan traktor sampai terbentuk lumpur, kemudian diratakan
Ø Pemupukan Pemberian pupuk diarahkan kepada perbaikan kesehatan tanah dan penambahan unsur hara berkurang. Kebutuhan pupuk organik pertama setelah sistem konvensional adalah 10 ton/ha dan diberikan sampai 2 musim tanam. Setelah kondisi tanah terlihat membaik, maka pemberian pupuk organik bias berkurang disesuaikan dengan kebutuhan. Pemberian pupuk organik dilakukan pada tahap pengolahan tanah kedua agar pupuk menyatu dengan tanah.
Ø Pemeliharaan Sistem tanam SRI tidak membutuhkan genangan air yang terus menerus, cukup dengan kondisi tanah yang basah. Penggenangan hanya dilakukan untuk mempermudah pemeliharaan. Pada prakteknya pengelolaan dapat dilakukan sebagai berikut: - Umur 1-10 hst, tanaman padi digenangi air dengan ketinggian 1-2 cm - Pada umur 10 hst dilakukan penyiangan. - Setelah dilakukan penyiangan tanaman tidak digenangi - Apabila masih memerlukan penyiangan, maka 2 hari menjelang penyiangan, tanaman digenangi - Pada saat tanaman berbunga, tanaman digenangi - Setelah padi matang susu tanaman tidak perlu digenangi sampai panen.
MANFAAT METODE SRI
Secara umum manfaat pengelolaan tanaman dengan metode SRI adalah :
- Hemat air; kebutuhan air antara 20-30% lebih sedikit dengan cara biasa (konvensional)
- Memperbaiki kondisi tanah (kesuburan dan kesehatan tanah)
- Menghasilkan produksi beras sehat, tidak mengandung residu pestisida membentuk petani mandiri; tidak tergantung pada pupuk dan pestisida buatan
Selasa, 14 Agustus 2012
PENGEMBANGAN JARINGAN IRIGASI KELOMPOKTANI CIPTA TALI WARGI
Infrastruktur dan sarana merupakan salah satu faktor penting dalam
proses usahatani, diantaranya infrastruktur irigasi. Infrastruktur
irigasi sangat menentukan ketersediaan air yang berdampak langsung
terhadap kualitas dan kuantitas tanaman khususnya padi.
Pemberian air irigasi dari hulu (upstream) sampai dengan hilir
(downstream) memerlukan sarana dan prasarana irigasi yang memadai.
Sarana dan prasarana tersebut dapat berupa: bendungan, bendung, saluran
primer dan sekunder, box bagi, bangunan-bangunan ukur, dan saluran
tersier serta saluran tingkat usaha tani (TUT). Rusaknya salah satu
bangunan-bangunan irigasi akan mempengaruhi kinerja sistem yang ada,
sehingga mengakibatkan efisiensi dan efektifitas irigasi menjadi
menurun. Apabila kondisi ini dibiarkan terus dan tidak segera diatasi,
maka akan berdampak terhadap penurunan produksi pertanian yang
diharapkan, dan berimplikasi negatif terhadap kondisi pendapatan petani
dan keadaan sosial, ekonomi disekitar lokasi.
Demikian halnya dengan jaringan irigasi yang terletak di Dusun Nangorak
Desa Margamekar Kecamatan Sumedang Selatan, jaringan irigasi yang
mengairi areal pesawahan di sekitar Dusun Nangorak dengan jumlah areal
yang mendapat pelayanan irigasi dari jaringan irigasi ini mencapai lebih
dari 100 Ha, mengalami kerusakan dimana-mana, bangunan lining, dan
box-box pembagi sudah mengalami kebocoran dan sebagian roboh, selain itu
kondisi di beberapa titik berpotensi mengakibatkan kelongsoran yang
mengancam pemukiman penduduk.
PELAKSANAAN KAJI TERAP DI UPTB SUMEDANG KOTA
Kaji terap adalah tes bahan informasi pertanian dan merupakan metode
penyuluhan pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan
petani-nelayan dalam memilih paket teknologi usahatani yang telah
direkomendasikan sebelum didemonstrasikan dan atau dianjurkan.
Pelaksanaan kaji terap ini dilaksanakan pada kondisi petani yang
sebenarnya dengan bimbingan penyuluh pertanian dari Dinas-dinas lingkup
pertanian yang terkait. Materi teknologi dalam kegiatan kaji terap
diperoleh melalui penyelenggaraan ”Temu Tugas”. Temu tugas adalah
pertemuan berkala antara pengemban fungsi penyuluhan, penelitian,
pengaturan dan pelayanan dalam rangka pemberdayaa petani-nelayan beserta
keluarganya. Tujuannya adalah untuk menghimpun bahan informasi
pertanian berupa hasil penelitian, kebijakan pengaturan/pelayanan,
masalah-masalah yang memerlukan pemecahan segera. Selain itu pula
bertujuan untuk memperoleh kesepakatan dalam rangka penyelenggaraan kaji
terap sekaligus untuk penyampaian umpan balik.Kaji
terap adalah tes bahan informasi pertanian dan merupakan metode
penyuluhan pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan
petani-nelayan dalam memilih paket teknologi usahatani yang telah
direkomendasikan sebelum didemonstrasikan dan atau dianjurkan.
Pelaksanaan kaji terap ini dilaksanakan pada kondisi petani yang
sebenarnya dengan bimbingan penyuluh pertanian dari Dinas-dinas lingkup
pertanian yang terkait. Materi teknologi dalam kegiatan kaji terap
diperoleh melalui penyelenggaraan ”Temu Tugas”. Temu tugas adalah
pertemuan berkala antara pengemban fungsi penyuluhan, penelitian,
pengaturan dan pelayanan dalam rangka pemberdayaa petani-nelayan beserta
keluarganya. Tujuannya adalah untuk menghimpun bahan informasi
pertanian berupa hasil penelitian, kebijakan pengaturan/pelayanan,
masalah-masalah yang memerlukan pemecahan segera. Selain itu pula
bertujuan untuk memperoleh kesepakatan dalam rangka penyelenggaraan kaji
terap sekaligus untuk penyampaian umpan balik.
Pada Tahun 2012, UPTB Sumedang Kota mendapat bantuan untuk melaksanakan
Kaji Terap yang dilaksanakan dilahan petani di blok Dangdeur Desa
Baginda Kecamatan Sumedang Selatan yang dilaksanakan mulai Bulan April
sampai dengan Bulan Juli 2012.
Komponen utama pelaksanaan Kaji Terap ini adalah penggunaan jajar
legowo, dengan melakukan pengamatan pada perlakuan legowo 4, legowo 3,
legowo 2 dan dengan pembanding tanpa legowo serta perlakuan petani di
sekitar lokasi kaji terap.
Tujuan dari pelaksanaan Kaji Terap ini adalah untuk :
1. meyakinkan kesesuaian paket teknologi usaha tani dengan kebutuhan dan
kemampuan serta kondisi agroekosistem petani di wilayah kaji terap.
2. mempercepat penyebaran informasi paket teknologi pertanian yang telah
direkomendasikan secara umum.
Langganan:
Komentar (Atom)



